Kamis, 03 November 2011

Permukaan Titan Ternyata Mirip Planet Bumi






Cassini, satelit ruang angkasa milik NASA, European Space Agency (ESA), dan Italian Space Agency (ASI) yang bertugas sejak 1997 kini tengah memantau Titan, salah satu bulan milik planet Jupiter. Sudah banyak citra satelit yang didapat oleh Cassini terkait benda angkasa tersebut.

Baru-baru ini, lewat Visual and Infrared Mapping Spectrometer milik satelit pemantau tersebut, tim peneliti internasional berhasil membuat peta global berwarna dari Titan, bulan yang 50 persen lebih besar dibanding bulan milik Bumi namun 80 persen lebih padat.

Video animasi itu terbentuk dari kepingan-kepingan gambar yang diambil saat Cassini mengelilingi Titan hingga sebanyak lebih dari 70 kali.

Yang mengejutkan, dari dokumentasi yang diambil oleh Cassini, ternyata Titan memiliki permukaan daratan yang sangat serupa dengan permukaan daratan planet Bumi. Berikut ini


Apa beda Asteroid, Komet, dan Meteorid

Menurut Near Earth Object Program NASA, asteroid merupakan benda berbatu yang ukurannya relatif kecil, tidak aktif, dan mengorbit Matahari.




Komet, juga berukuran relatif kecil namun kadang merupakan sebuah benda aktif yang menguapkan es yang ia miliki saat terkena sinar matahari dan membentuk atmosfir (coma) yang terdiri dari debu dan gas. Terkadang, karena komet bergerak cukup cepat, ia membentuk ekor yang terdiri dari debu dan atau gas.


Meteoroid sendiri merupakan partikel kecil yang terlepas dari komet ataupun asteroid. Dari ketiganya, asteroid merupakan benda yang paling menarik untuk dipelajari para ilmuwan.


Seperti diketahui, sampai sejauh ini, ilmuwan belum bisa memahami sepenuhnya bagaimana kehidupan awal terbuat dari zat organik yang tidak hidup, bisa tumbuh dan berkembang di Bumi. Dengan mempelajari asteroid, kita bisa mengetahui lebih banyak.

Dilansir Fox News, asteroid seperti 2 Pallas dan 10 Hygiea, yang diyakini pernah memiliki air, tampak memiliki senyawa organik (berbasis karbon) di dalamnya.

“Saat ini, asteroid tersebut memiliki komposisi kimia yang lebih primitif dibandingkan dengan Bumi. Kondisinya serupa dengan saat tata surya kita saat masih baru terbentuk,” kata Carol Raymond, Deputy Principal Investigator NASA.

“Dengan mempelajarinya, kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan bisa muncul di planet ini,” ucapnya.

Raymond menyebutkan, ada beberapa kondisi yang menjadikan Bumi sangat kondusif bagi kehidupan di masa lalu. “Selain itu, ilmuwan berpendapat bahwa asteroid yang mendarat di Bumi pada zaman dahulu kala, telah memberikan materi pembentuk yang membantu memulai kehidupan di planet ini,” ucapnya.


sumber

Kamis, 27 Oktober 2011

Social Science

Earth Science

Human Engineering

Rabu, 26 Oktober 2011

 

My Blog List

Site Info

Abc
DESA KERTAHAYU Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template