Kamis, 10 Juni 2010

Pewaris Tahta Galuh

Wretikandayun telah mengang kat Amara, putra bungsunya sebagai putra Mahkota, dengan gelar Mandiminyak, kemudian naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 702 M. Mandiminyak bertahta di Galuh pada tahun 702 M sampai dengan 709 M.

Tradisi pengangkatan putra bungsu sebagai putra mahkota di Galuh bukan hal baru, karena Sang Kadiawan pun mengangkat Wretikandayun, putra bungsunya. Pengangkatan Mandiminyak tentunya memiliki alasan, karena Sempakwaja, putra pertama tanggal giginya, sedangkan Jantaka, putra kedua menderita hernia maka putra bungsunya ini dianggkat untuk menggantikannya.

Mandiminyak dikenal tampan dan cakap. Ia paling disayang oleh Wretikandayun. Ditunjang dengan perkembangan Galuh yang makin pesat, Mandiminyak dikenal sering berpesta dan pesiar. Sedangkan kedua kakaknya memiliki keadaan yang sebaliknya, mereka memiliki cacad tubuh, lebih senang mendalami ilmu keagamaan. Latar belakang dari perbedaan ini di kemudian hari merubah perjalanan hidup para keturunan Wretikandayun, terutama yang ada hubungannya dengan perjalanan kesejarahan Galuh.

Penulis carita Parahyangan mulai mencatat sejarah kelam ketiga keturunan Wretikandayun pada peristiwa pesta ‘bulan purnama’ di keraton Galuh. Saat itu Rabbabu, istri Sempakwaja datang di keraton untuk menghadiri pesta, namun tidak disertai Sempakwaja, karena diberitakan sakit, sementara kedua putranya, yakni Purbasora dan Demunawan bertugas mengurus ayahnya.

Rababu didalam cerita Parahyangan dilukiskan berparas elok, putri sang pertapa, sedangkan Mandiminyak dilukiskan berparas tampan. Keadaan ini yang mendorong keduanya saling jatuh cinta dan melakukan Smarakarya, hingga berhari-hari. Hubungan Mandiminyak dengan Rababu membuahkan seorang putra, kelak diberi nama Sena atau Bratasenawa.

Sempakwaja sangat menyayangi Rabbabu namun tidak mencintai anak Rabbabu hasil perbuatannya dengan Mandiminyak. Peristiwa demikian dilukiskan dengan apik di dalam Cerita Parahyangan, dan akan disamopaikan dalam bahasa Sunda Kiwari, sebagaimana yang diterjemaahkan Atja (1968), sebagai berikut :

· Carek Rahiang Sempakwaja : "Rababu jig indit. Ku sia bikeun eta budak ka Rahiangtang Mandiminyak, hasil jinah sia, Sang Salahlampah."

· Rababu tuluy leumpang ka Galuh. "Aing dititah ku Rahiang Sempakwaja mikeun budak ieu, beunang sia ngagadabah aing tea."

· Carek Rahiangtang Mandiminyak: "Anak aing maneh teh, Sang Salah ?". Carek Rahiangtang Mandiminyak deui: "Patih ku sia budak teh teundeun kana jambangan. Geus kitu bawa kategalan! "

· Dibawa ku patih ka tegalan, Samungkurna patih, ti eta tegalan kaluar kila-kila nepi ka awang-awang. Kabireungeuh ku Rahiangtang Mandiminyak. "Patih teang deui teundeun sia nu aya budakna tea!" Ku patih diteang ka tegalan, kasampak hirup keneh. Terus dibawa ka hareupeun Rahiangtang Mandiminyak. Dingaranan Sang Sena.

Peristiwa Smarakarya di ‘pesta bulan purnama” tersebut tentu mendapat respon yang negatif dari kerabat keraton, dan membuahkan pergunjingan yang tidak baik bagi kalangan istana. Untuk meredakan masalah ini Wretikandayun menjodohkan Mandiminyak dengan Parwati, putri Kalingga. Konon Mandiminyak dikabarkan pindah ke kalinnga. Lain halnya dengan Purbasora dan Demunawan, putra Rababu dari Sempakwaja, mereka menaruh dendam, kelak antara putra Rabbau dari Mandiminyak dengan Purbasora terjadi perebutan tahta.

Sebelum memerintah Galuh, Mandiminyak tinggal bersama istrinya untuk memerintah Kalingga. Pengalaman memerintah ini sangat kelak sangat membantu tugasnya, terutama dalam menyelesaikan masalah diplomatik dengan Negara lain. Ketika Wretikandayun mangkat maka Ia kembali dan tinggal di Galuh untuk menggantikannya, namun Parwati, istrinya masih tetep memerintah di Bumi Mataram (Kuna), pecahan dari Kalingga.

Mandiminyak kemudian berupaya memperbaiki hubungan Galuh dengan Sunda yang sempat pecah ketika Galuh menyatakan memisahkan diri dari Sunda, bahkan Terusbawa, raja Sunda menyatakan ketidak setujuannya kepada penguasa Sriwijaya berniat menyerang Kalingga. Disamping itu, Mandiminyak menjodohkan Sanjaya, cucunya, putra Sena dengan Teja Kencana, cucu Terusbawa.

Posisi perkawinan ini menempatkan posisi Galuh sebagai kerajaan yang kuat, bahkan lebih kuat lagi ketika Sanjaya diangkat menbjadi raja Sunda menggantikan Terusbawa. Namun karena masalah alasan pengangkatan Mandiminyak dan buntut peristiwa pesta bulan purnama masih meninggalkan bekas dihati para putra Sempakwaja, maka maka Mandiminyak tidak sepenuhnya mendapat simpati dari kerabat Galuh. Kondisi ini pula yang menjadi sekam, kelak menyulut pemberontakan yang dilakukan Purbasora.

Sena atau Bratasenawa
Mandiminyak wafat pada tahun 709 M. Sepeninggalnya tahta Galuh dilanjutkan oleh Sena, putra dari hasil hubungannya dengan Rababu. Sena dikenal memiliki perangai yang berbeda dengan ayahnya. Sena dikenal taat beragama, ramah dan dihormati kaum agamawan. Sekalipun demikian, masih memiliki ganjalan, hal ini disebabkan peristiwa masa lalu masih tetap berbekas dihati kerabat Galuh.

Diriwayatkan pula Sena sangat menghormati Purbasora dan Demunawan sebagai kakak dari satu ibu. Namun sebaliknya Purbasora dan Demunawan sudah terlanjur sangat membenci. Sena bersahabat dengan Terusbawa, raja Sunda. Mungkin juga karena Terusbawa sahabat ayahnya dan kakek mertua Senjaya, anaknya. Bahkan ketika Sanjaya merebut Galuh, Sena berpesan agar Sanjaya tetap menghormati orang-orang tua di Galuh.

Sena mengetahui akan terjadi pemberontakan yang dipimpin Purbasora. Secara diam-diam ia mengirimkan utusan ke Sunda untuk meminta bantuan Terusbawa. Sayang, pasukan Sunda terlambat tiba di Galuh. sehingga Purbasora sudah mendahulu merebut Galuh.

Ketika Sena mengetahui Galuh telah dilumpuhkan Purbasora dan Demuwan, ia meloloskan diri ke Jawa tengah. Sebagai putra Mahkota Kalingga Utara, iapun kembali ke Kalingga Utara yang waktu itu diperintah oleh Parwati, ibunya. Dengan terusirnya Sena dari Galuh maka hubungan baik antara Kalingga dengan Galuh yang telah dirintis oleh Wretikandayun menjadi terpecah bahkan bermusuhan.

Sena memerintah Galuh selama 7 tahun dan berakhir pada tahun 716 M. Dengan terpaksa ia pun meletakan jabatannya sebagai penguasa Galuh dan membiarkannya dikuasai Purbasora.

Masa Sena di Galuh dilukiskan dalam Cerita Parahyangan, sebagai berikut :

· Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. / Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. / Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. / Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun(***)

Sumber bacaan :
· Kebudayaan Sunda – Zaman Pajajaran – Jilid 2, Ekadjati, Pustaka Jaya, Bandung – 2005.
· Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Jilid 2 dan 3, Tjetjep, SH dkk, Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
· Yoseph Iskandar. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa), Geger Sunten, Bandung – 2005.
· Tjarita Parahjangan, Drs.Atja, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung- 1968.

0 komentar:

Poskan Komentar

Untuk perbaikan blog dimohon untuk meninggalkan pesan dibawah ini

 

My Blog List

Site Info

Abc
DESA KERTAHAYU Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template