Rabu, 09 Juni 2010

Pendiri Kendan

Kendan didirikan oleh Sang Manikmaya, ia berasal dari keluarga Calankayana, India yang menetap di Kendan sebagai resi. Karena memiliki agama yang sama dengan raja Tarumanagara dan penyembah Wisnu, Manikmaya kemudian dinikahkan dengan Dewi Tirtakancana, putri Suryawarman, raja Tarumanagara.

Istilah atau sebutan Manikmaya dalam kehidupan masyarakat sunda sangat familir dan dikenal dari nama tokoh dewa didalam cerita Mahabarata. Sehingga banyak runtutan Kisah yang menghubungkan sejarah para leluhurnya dengan tokoh pewayangan.

Sebelum Sang Manikmaya tiba di Kendan, dipastikan daerah tersebut sudah ada kehidupan, sebagaimana ditemukannya gerabah yang diketahui berumur pada era sebelum tarikh masehi. Hal ini menjadi sangat masuk akal mengingat perkenalan Sang Manikmaya, pendiri Kendan dengan penguasa Tarumanara terjadi setelah ia berada di Kendan, dalam kapasitasnya sebagai resi.

Sang Manikmaya berkuasa di Kendan sejak 458 Saka (536 M) sampai dengan 490 Saka (568 M). Pada waktu itu Kendan masih mendapat proteksi dari Tarumanagara, karena dianggap wilayah Tarumanagara. Pendirian Kendan jika diurut kesejarahannya, bermula sebagai hadiah dari Suryawarman, raja Tarumanagara kepada Sang Resi. Pada saat Kendan didirikan, Tarumanagara ikut menyebarkan keberadaan Sang Manikmaya keseluruh negara daerah yang ada diwilayah tersebut. Hal ini bertujuan agar diketahui bawahannya.

Pembentukan Kendan hampir sama halnya dengan kisah Tarumanagara, semula berada di Wilayah Salakanagara, kemudian pendiri Tarumanagara, Sang Rajadirajaguru (Jayasingawarman) menikahi Minawati Iswati Tunggal Pertiwi, putri Dewawarman VIII. Dalam proses selanjutnya, disebut-sebut bahwa Salakanagara menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara, namun masih belum dapat diketahui, namun memang Tarumanagara pada akhirnya maju lebih pesat dibandibandingkan Salakanagara.

Mungkin juga jika Aki Tirem pada waktu itu jabatannya seorang raja, jalan cerita Salakanagara pun akan sama dengan cerita Tarumanagara dan Kendan. Karena Dewawarman I menikahi Dewi Pohaci, putri Aki Tirem, kemudian menjadi Raja dan Rajaresi di Wilayah yang ia terima sebagai hadiah dari raja yang sekaligus memproteksinya dari gangguan luar.

Suatu hal yang sulit dipahami jika pada periode selanjutnya Kendan melepaskan diri dari Tarumanagara. Karena Kendan tidak mungkin menjadi kerajaan yang utuh jika Suryawarman tidak menghadiahi Sang Manikmaya suatu daerah (Kendan) lengkap dengan rakyat dan tentaranya.

Pemberian hadiah ini bukan hanya sekedar warisan mertua kepada menantunya, melainkan suatu bentuk hadiah dari seorang sahabat kepada orang yang dianggap berjasa menyebarkan agama di Tarumanagara. Suryawarman juga menganggap Sang Manikmaya adalah Brahmana ulung dan berjasa terhadap agama.

Para penerus Manikmaya
Setelah Sang Manikmaya meninggal, ia digantikan Sang Suralim, putranya pada tahun 490 Saka (568 M). Sang Suralim, lebih mahir berperang dan banyak waktunya diabdikan sebagai Senapati dan Panglima Tarumanagara, sehingga ia bergelar Baladhika ning widyabala. Sang Suralim berkuasa selama 29 tahun. Kemudian digantikan Sang Kandiawan, putranya.

Lain halnya dengan ayahnya, Sang Kandiawan lebih dikenal karena hidupnya minandita, ia bergelar Rajaresi Dewaraja. Sebelum menggantikan ayahnya ia menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana, sehingga ia bergelar Rahyangta ri Medang Jati. Namun sebagai raja Kendan ia tidak berkedudukan di Kendan, melainkan tetap di Medang Jati, mengingat di Kendan sudah dianggap terpengaruh oleh Siwaisme, sedangkan ia penyembah Wisnu, sehingga ia pun bergelar Batara Wisnu di Medang Jati.

Sang Kandiawan mempunyai lima orang putra, dan menjadikannya sebagai penguasa daerah yang berada diwilayah Kendan, yakni Mangukuhan di kuli-kuli ; Karungkalah di Surawulan ; Katungmaralah di Peles Awi ; Sandangreba di Rawunglangit ; dan Wretikandayun didaerah Menir.

Berbeda dengan kisah tersebut, didalam Naskah Carita Parahyangan, kelima anak Sang Kandiawan dibedakan karena profesinya, bukan karena diberikan daerah kekuasaan, yakni Mangukuhan menjadi peladang ; Karungkalah menjadi pemburu (panggerek) ; Katungmaralah menjadi penyadap ; Sandangreba menjadi pedagang ; sedangkan Wretikandayun menggantikan Sang Kandiawan menjadi penguasa Kendan. Menurut salah satu versi, pemberian nama profesi tersebut bukan yang sebenarnya, namun sebagai simbol.

Sang Kandiawan menduduki tahta Kendan selama 15 tahun, sejak tahun 597 Saka (612 M), kemudian ia mengundurkan diri untuk bertapa di Layuwatang (Kuningan), kemudian ia digantikan Wretikandayun, putra bungsunya.

Pertimbangan Sang Kandiawan menyerahkan kekuasaan Kendan kepada Wretikandayun tentunya membuahkan pertanyaan besar, karena ia bukan anak pertama, dalam tradisi raja-raja dahulu dianggap pihak yang paling berhak mewarisi tahta ayahnya. Pewarisan demikian sebenarnya tidak bias “digebyah uyah”, mengingat setiap orang ataupun komunitas memiliki ciri khas yang mandiri dan berbeda dengan yang lainnya.

Bisa saja pemilihan Wretikandayun berdasarkan pada tradisi Kendan karena ia lebih minandita dibandingkan dengan saudara-sudaranya lainnya yang lebih banyak memprioritaskan urusan yang bersifat keduniaan, atau kepanditaannya tersebut pada masa itu dianggap sebagai suatu bentuk keahlian yang cocok untuk memimpin Kendan. Alasan ini dapat juga ditenggarai dari sejarah keberadaan Kendan, yakni suatu wilayah Karesian yang dihadiahkan Suryawarman, raja Tarumanagara kepada Sangresi Manikmaya. Namun untuk sekedar alasan, mungkin jawabannya dapat diketahui dari Carita Parahyangan, tentang lomba menombak Kebowulan.

Kisah penguasa Kendan pasca Wretikandayun sengaja tidak diuraikan lebih lanjut, mengigat masa tersebut Kendan sudah malih rupa menjadi Galuh dan sudah tidak berada lagi diposisinya semula. Selain hal tersebut, dalam perkembangannya Galuh memiliki jalan sejarah yang khas dan hingar bingar dari perpaduan masalah politik kekuasaan dan pentaatan terhadap keyakinan raja-rajanya.

Tradisi penurunan tahta kepada anak bungsu bukan sesuatu yang dilarang didalam tradisi Kendan, karena Wretikandayun didalam episode Galuh mewariskan tahtanya kepada Amara (Mandiminyak), putra bungsunya. Namun memang timbul peristiwa Purbasora dan Sanjaya generasi pasca Wretikandayun. Peristiwa inipun tidak berhenti hanya pada satu generasi, karena jika ditelaah berbuntut pada peristiwa Manarah, yang dikenal dalam sejarah lisan sebagai Ciung Wanara.

Penyerahan tahta kepada anak bungsu raja terjadi pula pasca Manarah, yakni dalam peristiwa Manistri, atau dikenal dalam cerita Lutung Kasarung. Manarah menyerahkan kekuasaannya kepada Purbasari, sedang Purbasari masih memiliki kakak perempuan lainnya, antara lain Purbalarang. Ceritapun berbuntut pada kisah rebutan kekuasaan. Berkat bantuan Sang Lutung (Manistri) akhirnya Purbasari dapat memperoleh kekuasaannya.

Kisah para penguasa Kendan didalam carita Parahyangan, disebut sebagai berikut :

· Ndéh nihan Carita Parahiyangan. / Sang Resi Guru mangyuga Rajaputra. / Rajaputra miseuweukeun [1] Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan manéh Rahiyangta Déwaraja. Basa lumaku ngarajaresi ngangaranan manéh Rahiyangta ri Medangjati, inya Sang Layuwatang, nya nu nyieun Sanghiyang Watang Ageung. /Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, nu miseuweukeun pancaputra; Sang Apatiyan Sang Kusika, Sang Garga Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Putanjala inya Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, Sang Katung maralah [3], Sang Sandanggreba, Sang Wretikandayun. /Hana paksi Si Uwur-uwur, paksi Si Naragati, nyayang di titrayatra [4] Bagawat Resi Makandria [5]. Dihakan anakna ku salakina. Diseuseul [6] ku éwéna [7]. / Carék éwéna, "Papa urang, lamun urang teu dianak, jeueung Bagawat Resi Makandria. / Ditapa sotéh papa, ja hanteu dianak." / Carék Bagawat Resi Makandria, "Dianak ku waya, ja éwé ogé hanteu." / Ti inya carék Bagawat Resi Makandria, "Aing dék leumpang ka Sang Resi Guru, ka Kéndan." / Datang siya ka Kéndan. / Carék Sang Resi Guru, "Na naha siya Bagawat Resi Makandria, mana siya datang ka dinih?" / "Pun samapun [8], aya béja kami pun, kami ménta pirabieun pun. Kéna kami kapupulihan ku Paksi Si Uwur-uwur, paksi Si Naragati, papa baruk urang hanteu di na anak." / Carék Sang Resi Guru, "Leumpang siya ti heula ka batur siya deui, anaking Pwah Aksari Jabung, leumpang husir Bagawat Resi Makandria, na pideungeuneun satapa, anaking." / Leumpang Pwah Rababu, datang ka baturna, teu diaku rabi. Nyeueung inya wedadari geulis, ti inya nyieun manéh Pwah Manjangandara, na Bagawat Resi Makandria nyieun manéh Rakéyan Kebowulan, sida pasanggaman. Carék Sang Resi Guru, "Étén [9] anaking, Pwah Sanghiyang Sri! Leumpang kita ngajadi ka lanceuk siya, ka Pwah Aksari Jabung." / Ti inya leumpang Pwah Sanghiyang Sri ngajadi, inya Pwah Bungatak Mangaléngalé. / Carék Sang Mangukuhan, "Nam adiing [10] kalih, urang ngaboro [11] leumpang ka tegal." / Sadatang ka tengah tegal, kasampak Pwah Manjangandara deung Rakéyan Kebowulan. / Digérékeun ku sang pancaputra; beunangna samaya, asing [12] nu numbak inya ti heula, nu ngeunaan inya, piratueun. / Keuna ku tumbak Sang Wretikandayun, Kebowulan jeung Pwah Manjangandara. / Lumpat ka patapaanana, datang paéh. Dituturkeun ku Sang Wretikandayun. Pwah Bungatak [14] Mangaléngalé kasondong nginang deung Pwah Manjangandara; ku Sang Wretikandayun dibaan pulang ka Galuh, ka Rahiyangta ri Medangjati. / Lawasniya adeg ratu lima welas tahun, disilihan ku Sang Wretikandayun di Galuh, mirabi Pwah Bungatak Mangaléngalé./ Na Sang Mangukuhan nyieun manéh panghuma; Sang Karungkalah nyieun manéh panggérék, Sang Katungmaralah nyieun manéh panyadap; Sang Sandanggreba nyieun manéh padagang. Ku Sang Wretikandayun diadegkeun Sang Mangukuhan, Rahiyangtang Kulikuli; sang Karungkalah diadegkeun Rahiyangtang Surawulan; Sang Katungmaralah diadegkeun Rahiyangtang Pelesawi [15]; Sang Sandanggreba diadegkeun Rahiyangtang Rawunglangit./ Sang Wretikandayun adeg di Galuh. Ti inya lumaku ngarajaresi, ngangaranan manéh Rahiyangta ri Menir [16]. Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, inya nunyieunna Purbatisti. / Lawasniya ratu salapan puluh tahun. / Disilihan ku Rahiyangtang Kulikuli, lawasniya ratu dalapan puluh tahun. / Disilihan ku Rahiyangtang Sarawulan, lawasniya ratu genep tahun, katujuhna panteg kana goréng twah. / Disilihan ku Rahiyangtang Rawunglangit, lawasniya adeg ratu genep puluh tahun. [Atja, 1968]

Foto : Kampung Kendan
Disarikan oleh : Kertahayu
Dari berbagai sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Untuk perbaikan blog dimohon untuk meninggalkan pesan dibawah ini

 

My Blog List

Site Info

Abc
Loading...
DESA KERTAHAYU Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template