Rabu, 19 Oktober 2011

Candi Bojong Menje

Candi ini terletak di Kampung Bojong Menje, Desa Cangkuang, Kec. Rancaekek lebih kurang 25 km dari pusat kota Bandung ke arah timur pada jalur jalan provinsi Bandung-Garut. Reruntuhan candi terletak 200 m sebelah selatan dari jalan raya tersebut, yang dihubungkan oleh gang yang sempit. Candi ini ditemukan oleh Ahmad dan penduduk setempat pada tanggal 19 Agustus 2002. Jika menilik nama tempat “bojong” artinya tanah yang menjorok, mungkin dahulunya tanah yang menjorok ke tengah situ atau danau, sedangkan “ranca” artinya rawa. Anda bisa membayangkan dahulunya seperti apa daerah sekitar candi.

Tan


Jumlah batuan yang terlihat lebih sedikit dari yang pernah saya lihat di tahun 2004. Mungkin sebagian diamankan terutama yang berbentuk patung. Saat itu tak ada seorangpun yang menunggui situs. Saya tidak melihat juru pelihara candi Pak Rochman dan pintu pagar terkunci dengan gembok yang kokoh. Semoga beliau sehat dan panjang umur. Saya lupa menanyakan keberadaan beliau kepada penduduk yang tinggal di ujung gang.


Ukuran kaki candi sekitar 6x6 meter persegi. Candi Bojong Menje merupakan candi Hindu dengan ditemukannya yoni yang merupakan lambang Dewa Siwa. Jika Candi ini ada kaitannya dengan Kerajaan Kendan yang sekarang termasuk daerah Nagreg, maka diperkirakan berasal dari abad ke-6 atau 7 Masehi. Kendan merupakan daerah bawahan Kerajaan Tarumanagara. Daerah Nagreg lebih kurang 13 km jauhnya dari Rancaekek ke arah Garut.


Di sebelah utara jalan kereta api dekat Stasiun Nagreg ditemukan situs purbakala yang oleh penduduk setempat disebut “pamujaan”. Di sini pernah ditemukan patung Durga (nama seorang dewi). Patung ini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Di Kendan pernah pula ditemukan perkakas batuan neolitik jaman jauh sebelum tarikh Masehi. Jadi daerah ini sudah lama dihuni manusia.


Dari situs kita tidak bisa melihat pemandangan karena terhalang benteng pabrik. Jangan berkecil hati kita terbang saja ke atas dengan membuka Google Earth untuk melihat situs dan sekitarnya dari penglihatan satelit. Kemudian ubah elevasi seolah kita melihat dari arah selatan candi. Tepat arah utara candi adalah puncak bukit yang disebut Gunung Geulis. Letaknya beberapa kilometer dari situs. Biasanya situs purbakala di Pulau Jawa seperti candi atau istana tidak asal dibangun. Umumnya membentuk poros pada arah utara-selatan, atau timur-barat. Berada di antara dua sungai, di antara gunung dan danau, atau diantara dua bangunan alam yang berdekatan. Jadi kalau sebelah utara adalah puncak Gunung Geulis, maka sebelah selatan ada apa? Berdasarkan toponimi, saya membayangkan candi ini ada di atas tanah yang menjorok ke selatan ke tengah situ (danau) sisa danau purba Bandung. Kalau ya sungguh indah panorama alam saat itu. Sejak pertama kali saya ke puncak Gunung Geulis tahun 1979 terlihat gundul karena bukit ini penuh dengan ladang tembakau. Sedikit sekali tanaman kerasnya.


Jika membandingkan dengan Candi Cangkuang yang berada di Desa Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut, maka kedua candi tersebut nama desanya sama Cangkuang. Pada poros mata angin arah utara Candi Cangkuang terdapat puncak bukit/gunung. Candi Cangkuang kini berada di atas pulo (pulau kecil) di tengah Situ Cangkuang. Mirip dengan kondisi Candi Bojong Menje yang saya bayangkan di atas. Cangkuang (Pandanus Furcatus) adalah sejenis tanaman yang dapat ditemui di sekitar Candi Cangkuang). Kedua candi berukuran kecil.


Raja Manikmaya adalah raja pertama Kendan (536-568 M) yang berasal dari India menantu Raja Tarumanagara saat itu. Cucu Manikmaya bernama Kandiawan menggantikan ayahnya (597-612 M), beliau tidak berkedudukan di Kendan melainkan di Medang Jati. Sebelumnya beliau sudah menjadi raja bawahan Kendan di sana. Mungkin Candi Cangkuang dibangun pada masa ini. Kerajaan Kendan pudar setelah Wretikandayun putra Kandiawan mendirikan pusat kerajaan jauh di arah tenggara bernama Galuh.


Candi Bojong Menje belum bisa ditampilkan secara komersial. Keadaannya terhimpit oleh benteng-benteng pabrik yang mengitarinya. Di sekitarnya masih tersisa makam-makam. Kondisi bebatuan candi yang jumlahnya tidak utuh akan menyulitkan untuk merekonstruksinya. Namun jika Anda punya ketertarikan terhadap peninggalan purbakala, tentu tergerak ingin melihatnya.


Untuk mengunjungi situs ini sangat mudah baik menggunakan kendaraan umum maupun pribadi.Dari arah barat sejak gerbang tol Cileunyi lebih kurang 5 km. Sedangkan dari arah timur baik yang dari Tasikmalaya maupun Garut yang menuju Bandung akan melewati daerah Rancaekek ini.***




Papan penunjuk ke arah candi di Jalan Raya Rancaekek (Juni 2008)









Tempat candi dilingkupi benteng pabrik (Juni 2008)










Batuan candi disusun (Desember 2004)










Batuan kaki candi (Desember 2004)







Salah satu batu candi (Desember 2004)











Pak Rochman juru kunci candi (Desember 2004)











Poros Candi-Gunung Geulis (Google-Earth)






0 komentar:

Poskan Komentar

Untuk perbaikan blog dimohon untuk meninggalkan pesan dibawah ini

 

My Blog List

Site Info

Abc
DESA KERTAHAYU Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template